Welcome To ANISA TOUR AND TRAVELLING
Sumatera Barat Padang Dan Bukittinggi
Assalamualaikum
Yang sudah ada rancangan buat bercuti di bukittinggi dan padang
Jom Whatsapp saya Herman Putra ( +62812 6784 9399 )
AIR
TERJUN LEMBAH ANAI
Lembah Anai
adalah salah satu air terjun yang terkenal dan menjadi maskot pariwisata di
Sumatera Barat. Orang Padang biasa memanggilnya dengan Aia Tajun atau Aia
Mancua Lembah Anai. Air terjun ini berketinggian sekitar 35 meter ini merupakan
bagian dari aliran Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju
daerah patahan Anai. Air terjun ini berada di bagian barat Cagar Alam Lembah
Anai,
Ada 3 air
terjun di lokasi ini, salah satunya di antaranya terletak di pinggir jalan yang
sering dikenal dengan Air Terjun Lembah Anai. Sementara dua air terjun lainnya
tertutup oleh lebatnya hutan, sehingga belum banyak dikenal oleh masyarakat
luas. Wisatawan yang ingin menyaksikan dua air terjun tersebut dapat menempuh
perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai.
Tak jauh dari
lokasi air terjun ini terdapat aliran sungai besar berbatu yg mengalir air yang
jernih. Di atas sungai tersebut melintas jembatan rel kereta api peninggalan
Belanda.
Terletak tepat
di pinggir jalan raya trans Sumatera yang menghubungkan Kota Padang dengan
Bukit Tinggi, tepatnya di Nagari Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten
Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat.
Berjarak 60 km
dari kota Padang. Untuk mencapai lokasi ini perjalanan dapat ditempuh dengan
menggunakan angkutan umum (bus), mobil sewaan, atau mobil pribadi. Jika
menggunakan angkutan umum, perjalanan dimulai dari Bandar Udara Ketaping Padang
menuju Kawasan Cagar Alam Lembah Anai dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.
Jika ingin berada
di dekat air terjun, harus berjalan lagi dan mendaki beberapa buah anak tangga
serta melewati beberapa buah gazebo yang digunakan untuk beristirahat.
MINANG VILLAGE
Kalau Anda mau
ke objek wisata yang terletak di Kota Padang Panjang sekitar 60 kilometer dari
Kota Padang ini, tak sulit kok, mau dengan sepeda motor, angkutan umum, apalagi
kendaraan pribadi bisa mencapainya dengan mudah, karena terdapat di jalan
utama, tepatnya di Jalan Sutah Syahrir Kota Padang Panjang. Kini koleksi
dokumentasi dan informasinya sudah semakin lengkap, terdiri dari foto, video,
sampai perlengkapan para pejuang dan masyarakat tempo dulu yang berhasil
menjaga eksistenti Minang Kabau di Indonesia. Penasaran seperti apa tempatnya?
Museum Minang Village padang panjang
• Bangunan
Unik
Objek wisata
minang village yang juga menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan
Minangkabau (PDIKM) ini, terdiri dari satu bangunan utama berbentuk rumah
panggung yang biasa disebut rumah gadang yang merupakan rumah adat orang
Minangkabau, dengan ciri khas bagonjong di bagian atap, serta ukiran kayu khas
pengrajin Minang. Di bagian depan rumah, terdapat rumah kecil yang disebut
rangkiang, dahulu berfungsi sebagai lumbung padi, atau tempat menyimpan padi
hasil panen, yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anda
akan dibuat takjub dengan arsitektur rumah kayu ini, karena sangat sederhana
tapi kaya makna di setiap sudutnya.
poto sejarah dan barang antik minangkabau
di minang village
• Koleksi
Antik
Dibilang antik
karena koleksinya terdiri dari beragam jenis yang mungkin tidak ada di museum
lain. Masing-masing punya nilai sejarah sendiri, seperti alat kesenian
tradisional, perlengkapan pertanian dari masa ke masa, foto yang menggambarkan
sejarah Minangkabau, yang seolah membawa Anda kembali ke masa lalu dan menjadi
paham bagaimana perjuangan dan cara orang Minang bergaul hingga bertahan hidup.
Bahkan beberapa diantara koleksi tersebut didatangkan langsung dari negeri
Belanda yang dahulu sempat menjajah Indonesia dalam waktu yang sangat lama.
sewa pakaian adat minangkabau di minang
village
• Baju Adat
Minang Kabau
Untuk
melengkapi perjalanan wisata sejarah Anda di minang village, maka Anda bisa
mengabadikannya dengan mengenakan pakaian Adat Minangkabau yang tersedia
disini. Tinggal sewa dengan harga murah, dan Anda tinggal berpose sesuka hati
di pelaminan Minang yang terkenal akan keindahan dan tingkat kesulitan tinggi
untuk merangkainya tersebut. Hasilnya luar biasa menakjubkan.
Setelah
menelusuri perkampungan minang, Anda pasti punya tambahan wawasan dan ilmu
tentang Minang Kabau. Semua itu bukan hanya jadi kenangan, namun dapat
membangkitkan semangat untuk lebih menghargai kebudayaan Indonesia terutama
Minang Kabau, yang sangat mencengangkan. Jadi tak usah susah payah mencari
literature dari banyak tempat, cukup ke minang village saja. Sampai jumpa dan
semoga perjalanan Anda menyenangkan.
JAM GADANG BUKITTINGGI
Jam Gadang
adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera
Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat
sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti
"jam besar".
Selain sebagai
pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek
wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut
menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur.
Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat
menara jam ini.
Jam Gadang
memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26
meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan
tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti
akibat gempa pada tahun 2007.
Terdapat 4 jam
dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan
langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan
secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang
itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam
terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng
tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama
belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama
kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Jam Gadang
dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya
kapur, putih telur, dan pasir putih.
Jam Gadang
selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook
Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada
masa pemerintahan Hindia Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh
Yazid Abidin Rajo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh
putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan
Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong
fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak
diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal
itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau
markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.
Atap Jam
Gadang mengikuti zaman pemerintahannya.
Sejak
didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk
atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap pada Jam
Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di
atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda.
Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk
gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Renovasi
terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan
Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi
dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada
ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.
SIANOK CANYON
Sianok Canyon adalah
sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di
kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan
berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke
nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Sianok
Canyonmemiliki pemandangan yang sangat indah dan juga menjadi salah satu objek
wisata andalan provinsi.
Sianok
Canyonyang dalam jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan
lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau
Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk
dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil
dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang
berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial
Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget,
karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.
Batang Sianok
kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yang disaranai oleh suatu
organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari
nagari Lambah sampai jorong Sitingkai nagari Palupuh selama kira-kira 3,5 jam.
Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan
tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang,
siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, dan juga tapir.
LUBANG JEPANG
Lubang Jepang
Bukittinggi (juga dieja Lobang Jepang) adalah salah satu objek wisata sejarah
yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lubang Jepang
merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara
pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.
Sebelumnya,
Lubang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan
perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan
berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus
terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang
penyergapan, penjara, dan gudang senjata.
Selain
lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan
Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis
tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang
Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.
Diperkirakan
puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari
pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan
tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk
menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri
dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan
Pulau Biak.
Lubang Jepang
mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah pada tahun 1984, oleh pemerintah
kota Bukittinggi. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya
terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung
Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.
PUNCAK LAWANG
Puncak Lawang
merupakan nama suatu puncak dataran tinggi di Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Dari tempat ini, kita bisa meihat birunya Danau Maninjau. Puncak Lawang
terletak di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ini daerah puncak
menuju Danau Maninjau. Dari sini kita dapat melihat pemandangan Danau Maninjau
secara utuh.
Puncak Lawang
berada di 1.210 mdpl. Di zaman penjajahan, tempat ini digunakan sebagai tempat
peristirahatan bangsawan Belanda. Puncak Lawang sering digunakan untuk
kejuaraan olahraga paralayang kelas internasional karena merupakan salah satu spot
terbaik di Asia Tenggara. Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan
melewati perjalanan dengan 44 belokan yaitu Kelok 44.
SUNGAI LANDIA
Sungai Landia
merupakan salah satu nagari yang terdapat dalam kecamatan IV Koto, Kabupaten
Agam, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
DANAU MANINJAU
Danau Maninjau
adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi
Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah
utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27
kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.
Danau Maninjau
merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas
permukaan laut. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera dari letusan besar
gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km3 material piroklastik.
Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang
berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatera yang bernama gunung
Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit
sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x
12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2).
Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari permukaan danau yang mempunyai
kedalaman mencapai 157 m (Verbeek, 1883 dalam Pribadi, A. dkk., 2007).
Menurut legenda
di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang
Sembilan.
Danau Maninjau
merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu
bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau.
Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak
Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan
melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang
lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.
Danau ini
tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera
Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang
memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah
Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata,
seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan
restoran.
MUSEUM BUYA HAMKA
Museum Rumah
Kelahiran Buya Hamka adalah museum yang terletak di sekitar tepian Danau
Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten
Agam, Sumatera Barat. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2000 dan diresmikan
pada tahun 2001 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Zainal Bakar. Sesuai
dengan namanya, museum ini mengkhususkan diri pada koleksi benda-benda
peninggalan Buya Hamka, yang bangunannya merupakan rumah yang ditempati Hamka
sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang Panjang.
Museum Rumah
Kelahiran Buya Hamka terletak pada ketinggian yang lebih tinggi 5 meter dari
jalan raya di sekitarnya. Museum ini menghadap ke arah barat atau Danau
Maninjau dan membelakang ke arah timur. Museum ini memiliki bentuk arsitektur
layaknya Rumah Gadang dengan atap bergonjong dan hiasan ukiran Minang.
Museum ini
mulai dibuka pukul 8.00 hingga pukul 15.00 waktu setempat. Namun biasanya akan
tetap dibuka untuk sementara waktu meski pengunjung melewati batas waktu
kunjungan. Dari sekian orang yang mengunjungi museum ini, kebanyakan mereka
bukan orang Indonesia, melainkan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei
Darussalam.
Bangunan
museum ini sebelumnya merupakan rumah yang ditempati Haji Abdul Malik Karim
Amrullah atau akrab dipanggil Hamka sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang
Panjang. Rumah milik nenek Hamka tersebut hampir diluluhlantakan pada masa pendudukan
Jepang di Indonesia. Setelah sekian lama, pada tahun 2000 muncul gagasan dari
Gubernur Sumatera Barat, Zainal Bakar untuk membangun kembali rumah tersebut
dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya lalu menjadikannya sebagai museum.
Dengan bantuan dana dari berbagai pihak baik yang ada di Sumatera Barat maupun
di luar Sumatera Barat terutama Malaysia, dalam waktu 11 bulan pembangunan
museum ini dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Zainal Bakar pada tanggal 11
November 2001.
Terdapat
berbagai koleksi benda peninggalan Hamka di dalam museum. Ratusan buku,
majalah, dan arsip-arsip tentang Hamka tersimpan di dalam lemari kaca,
sementara puluhan foto terpajang di dinding-dinding hampir setiap sudut
ruangan. Namun banyak keterangan foto yang tidak akurat, seperti foto Hamka
bersama mantan Ketua MPR/DPR Amir Machmud misalnya yang ditulis "Hamka
bersama Hamir Marmut".
Selain foto
bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh lain, juga terdapat foto
Hamka semenjak kanak-kanak, remaja, hingga foto lautan manusia mengantar
jenazah Hamka ketika meninggal pada tahun 1981. Terpajang pula foto yang
menggambarkan kedekatan Hamka ketika masih remaja dengan Muhammad Natsir,
mantan Perdana Menteri Indonesia dan ketua partai Masyumi kelahiran Alahan
Panjang, Solok yang aslinya juga berasal dari Maninjau.
Di ruang tamu
museum, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu. Di sebelah
ruang tamu, tersusun 5 rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum
yang jumlahnya sekitar 200 judul. Namun dari sekitar 118 judul karya Hamka,
yang tersimpan di museum ini hanya 28 judul.
Di ruang
kamar, terdapat tempat tidur dengan kain kelambu berwarna putih yang dahulu
menjadi tempat tidur Hamka. Selain itu, juga terdapat ruang khusus yang
dilengapi kursi-kursi peninggalan orang tua Hamka, lampu gantung kuno, 1 koper
ketika Hamka pertama kali berangkat haji, 8 tongkat, dan baju wisuda lengkap
dengan toga ketika Hamka dikukuhkan menjadi Doktor Honoris Causa dari
Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.
Sebagian besar benda-benda peninggalan tersebut merupakan sumbangan dari
berbagai pihak, terutama dari keluarga Hamka dan Universitas Kebangsaan
Malaysia.
LEMBAH HARAU
Lembah Harau
adalah sebuah ngarai dekat kota Payakumbuh di kabupaten Limapuluh Koto,
provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan
ketinggian mencapai 150 meter berupa batu pasir yang terjal berwarna-warni,
dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi Cagar Alam Harau adalah
berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai
850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu,
Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. Berjalan menuju Lembah Harau amat
menyenangkan. Dengan udara yang masih segar, Anda bisa melihat keindahan alam
sekitarnya. Tebing-tebing granit yang menjulang tinggi dengan bentuknya yang
unik mengelilingi lembah. Tebing-tebing granit yang terjal ini mempunyai
ketinggian 80 m hingga 300 m.
Dari mulai
saat memasuki Lembah Harau , kita akan menemukan banyak keindahan yang memukau
sepanjang jalan . Sangatlah cocok kalau sebagian pemanjat yang telah
mengunjungi tempat ini memberi julukan Yosemite nya Indonesia. Tempat ini sudah
lama menarik perhatian orang. Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak
di kaki air terjun Sarasah Bunta merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah
sering dikunjungi orang sejak 1926. Menyaksikan hamparan sawah yang indah, itu
hal yang sudah biasa. Namun, jika hamparan sawah itu diapit oleh tebing tebing
tegak lurus menjulang setinggi sekitar 150 meter hingga 200 meter, orang pasti
akan berdecak kagum. Pemandangan itu bisa dilihat di Lembah Harau, Keindahan
masih bertebaran di dataran tingginya. Di sana ada cagar alam dan suaka
margasatwa. Lembah Harau seluas 270,5 hektare/2.705km² . Tempat ini ditetapkan
sebagai cagar alam sejak 10 Januari 1993.
Di cagar alam
dan suaka margasatwa Lembah Harau terdapat berbagai spesies tanaman hutan hujan
tropis dataran tinggi yang dilindungi, plus sejumlah binatang langka asli
Sumatera. Monyet ekor panjang (Macaca fascirulatis) merupakan hewan yang acap
terlihat di kawasan ini. Kawasan Obyek wisata Lembah Harau ini terdiri dari 3
(tiga) kawasan : Resort Aka Barayu, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo
Piobang . Pada resort Aka Barayun yang memiliki keindahan air terjun yang
mempunyai kolam renang, yang memberikan nuansa alam yang asli juga berpotensi
untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang
terjal dan juga mempunyai lokasi yang bisa memantulkan suara (echo).
Disini juga
terdapat fasiltas penginapan berupa homestay yang bisa dimanfaatkan wisatawan
yang ingin menginap lengkap dengan fasilitasnya. Resort Sarasah Bunta terletak
disebelah timur Aka Barayun, memeliki 4(empat) air terjun (sarasah Aie Luluih,
Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek ) dengan telaga dan
pemandangan yang indah seperti ; Sarasah Aie Luluih, dimana pada sarasah ini
air yang mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat
mandi alami yang asri. Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya
yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar
sinar matahari siang sehingga dinamakan “Sarasah Bunta”. Sarasah Murai , pada
sarasah ini sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih
sehingga masyarakat menamakan “Sarasah Murai “. Pada Sarasah Aie Angek belum
banyak dikunjungi wisatawan, airnya agak panas berada arah keutara dari “Sarasah
Murai”.Pada Resort Rimbo Piobang sampai akhir tahun 2009 belum berkembang
karena direncanakan untuk Taman Safari.
KELOK SAMBILAN
Kelok 9 atau
Kelok Sembilan adalah ruas jalan berkelok yang terletak sekitar 30 km sebelah
timur dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat menuju Provinsi Riau. Jalan ini
membentang sepanjang 300 meter di Jorong Aie Putiah, Nagari Sarilamak,
Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan merupakan bagian
dari ruas jalan penghubung Lintas Tengah Sumatera dan Pantai Timur Sumatera.
Jalan ini memiliki tikungan yang tajam dan lebar sekitar 5 meter, berbatasan
dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam: Cagar
Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau.
Di sekitar
Jalan Kelok 9 saat ini telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km.
Jembatan ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal dengan
tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58 meter. Terhitung, jembatan ini
enam kali menyeberangi bolak balik bukit. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2013. meskipun telah beberapa kali dibuka
untuk menunjang arus mudik lebaran dan penyelenggaraan Tour de Singkarak dua
tahun sebelumnya.
Jalan Kelok 9
dibangun semasa pemerintahan Hindia Belanda antara tahun 1908–1914. Jalan ini
meliuk melintasi Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan Pulau
Sumatera. Jika direntang lurus panjang Kelok Sembilan hanya 300 meter dengan
lebar 5 meter dan tinggi sekitar 80 meter.
Berdasarkan
catatan Kementerian PU, dalam sehari jalan ini dilalui lebih dari 10 ribu unit
kendaraan dan pada saat libur atau perayaan hari besar meningkat 2 sampai 3
kali lipat. Namun, sejak dibangun Kelok Sembilan nyaris tak mengalami pelebaran
berarti karena terkendala medan. Seiring peningkatan volume kendaraan yang
melintas, kondisi jalan yang sempit dan terjal sering mengakibatkan kemacetan.
Lebar jalan yang hanya 5 meter dan tikungannya yang tajam kerap menyulitkan
kendaraan bermuatan besar melintas karena tidak kuat menanjak.
Pada tahun
2000, lalu lintas kendaran antara Sumatera Barat dan Riau sudah mencapai antara
9.000 sampai 11.000 kendaraan sehari dengan mengangkut sekitar 15,8 juta orang
dan sekitar 28,5 juta ton barang dalam setahun. Separuh dari barang yang
diangkut adalah hasil pertanian dan peternakan. Karena penyempitan jalan di
Kelok Sembilan, perjalanan dari Bukittinggi menuju Pekanbaru yang mestinya
dapat ditempuh dalam waktu 4 jam, bisa memakan waktu 5 sampai 6 jam. Mengatasi persoalan
ini, Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumatera Barat Ir. Hediyanto W. Husaini
mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk membangun jembatan layang.
Pembangunan jalan layang Kelok 9 mulai dikerjakan pada November 2003 setelah
memperoleh persetujuan pemerintah pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional pada Agustus 2003.
Pembangunan
jembatan layang Kelok 9 mulai dilakukan pada 2003. Pengerjaannya ditangani
dalam dua tahapan pembangunan. Panjang keseluruhan jembatan dan jalan yang
dibangun adalah 2.537 meter, terdiri dari enam jembatan dengan panjang 959
meter dan jalan penghubung sepanjang 1.537 meter.
Jembatan
layang Kelok 9 terdiri dari enam jembatan dan memiliki ruas jalan selebar 12,5
meter. Bentang jembatan pertama memiliki panjang 20 meter, bentang kedua 230
meter, dan bentang ketiga 65 meter.
Bentang
keempat memiliki panjang 462 meter. Bentang jembatan keempat merupakan jembatan
jenis pelengkung beton dengan pondasi bore pile sedalam 20 meter untuk menahan
berat jembatan dan gaya horizontal gempa. Bentang jembatan kelima memiliki
panjang 31 meter dan bentang keenam 156 meter.
KELOK 44
Kelok 44
adalah kelokan yang terdapat di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Kelok 44
merupakan daerah perbukitan berada di di atas Danau Maninjau yang dilingkari
jalan yang berkelok dilerengnya.
Kelok 44
merupakan tikungan berjumlah 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok
Ampek Puluh Ampek. Setiap kelokan memang patah. Setiap kelok itu diberi nomor
berurut. Sepanjang perjalanan dari bukit tinggi menuju danau ini, para
wisatawan akan disuguhin pemandangan yang sangat indah berupa sawah-sawah yang
berbentuk terasiring, pancuran-pancuran air dari sungai yang
bertingkat-tingkat, serta hijaunya deretan Bukit Barisan. Kelok 44 juga
merupakan ikon dalam balap sepeda Tour de Singkarak.
ISTANA PAGARUYUANG
Pagaruyung
adalah kerajaan yang pernah berdiri di Sumatera, wilayahnya terdapat di dalam
provinsi Sumatera Barat sekarang. Nama kerajaan ini dirujuk dari nama pohon
Nibung atau Ruyung, selain itu juga dapat dirujuk dari inskripsi cap mohor
Sultan Tangkal Alam Bagagar dari Pagaruyung, yaitu pada tulisan beraksara Jawi
dalam lingkaran bagian dalam yang berbunyi sebagai berikut: Sultan Tangkal Alam
Bagagar ibnu Sultan Khalīfatullāh yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri
Pagaruyung Dārul Qarār Johan Berdaulat Zillullāh fīl 'Ālam. sayangnya pada cap
mohor tersebut tidak tertulis angka tahun masa pemerintahannya. Kerajaan ini
runtuh pada masa Perang Padri, setelah ditandatanganinya perjanjian antara Kaum
Adat dengan pihak Belanda yang menjadikan kawasan Kerajaan Pagaruyung berada
dalam pengawasan Belanda.
Sebelumnya
kerajaan ini tergabung dalam Malayapura, sebuah kerajaan yang pada Prasasti
Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya
sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam
Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah
taklukan Adityawarman lainnya.
KERAJINAN PANDAI SIKEK
Pandai Sikek
merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Sepuluh
Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini
terletak di dekat Batusangkar, ibu kota dari kabupaten Tanah Datar. Nagari
Pandai Sikek juga dikenal sebagai tempat pengrajin tenun, dan ini
diapresiasikan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam gambar mata uang
pecahan Rp 5.000 emisi 1999-saat ini.
Berdasarkan
sejarahnya (Barih Balibeh) pasukuan di Nagari Pandai Sikek pada mulanya hanya
terdiri dari ampek suku (empat suku) yaitu:
Koto
Guci
Sikumbang
Pisang
Kemudian dalam
perkembangan populasi penduduk, maka suku Koto dipecah menjadi empat suku, dan
datang beberapa suku yang lain sehingga saat ini di Nagari Pandai Sikek
terdapat tujuh suku dan lebih dikenal dengan sebutan Urang nan Tujuah Suku
Salapan indu yaitu:
Koto
Sungai Guruah
Koto
Tibalai
Koto Limo
Paruik
Koto
Gantiang
Guci
Sikumbang
Pisang
Panyalai
dan Jambak
Kemudian dari
Urang nan Tujuah Suku Salapan indu tersebut lahirlah istilah Pangulu nan Anam
Puluah (Penghulu yang enam puluh) yaitu :
Koto
Sungai Guruah pangulu nan sapuluah - 10 Penghulu
Koto
Tibalai pangulu nan batujuah - 7 Penghulu
Koto Limo
Paruik pangulu nan batujuah - 7 Penghulu
Koto
Gantiang pangulu nan barampek - 4 Penghulu
Guci
pangulu nan sapuluah - 10 Penghulu
Sikumbang
pangulu nan sambilan - 9 Penghulu
Pisang
pangulu nan sambilan - 9 Penghulu
Panyalai
dan Jambak pangulu nan barampek - 4 Penghulu
Namun saat ini
Koto Gantiang Pangulu nan Barampek bergabung dengan Koto Sungai Guruah Pangulu
nan Sapuluah, sedangkan Panyalai dan Jambak bergabung Guci. Sehingga kalau
dijumlahkan penghulunya menjadi 52
Di nagari ini
yang menjadi sumber pendapatan primadona bagi masyarakat setempat adalah
sebagai pengrajin tenun atau songket. Motif-motif kain tenun di nagari ini
selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan
sering dipakai sebagai pakaian pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi lain
dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai tando dan dipajang juga pada waktu
batagak (mendirikan) rumah. Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai
motif asli pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan Pandai Sikek pada zaman
lampau.
BATU MALIN KUNDANG
Batu Malin
Kundang adalah relief batu berupa pecahan kapal dan seseorang yang disebutkan
sebagai Malin Kundang tertelungkup di pesisir Pantai Air Manis, Kota Padang,
Sumatera Barat. Bongkahan batu menggambarkan akhir hidup tokoh Malin Kundang,
saudagar yang saat kedatangannya ke kampung halaman mendapat kutukan karena
menolak mengakui ibunya. Keberadaan Batu Malin Kundang telah mempopulerkan
Pantai Air Manis, tempat latar legenda sebagai salah satu daya tarik wisata di
Padang. Relief pada Batu Malin Kundang sendiri dikerjakan pada 1980-an, hasil
karya Dasril Bayras bersama Ibenzani Usman.
PANTAI PADANG
Pantai Padang
atau populer dengan sebutan Taplau (singkatan dari tapi lauik, bahasa Minang
yang artinya tepi laut) adalah sebuah pantai yang terletak di Kota Padang,
Sumatera Barat. Pantai ini terletak pada kawasan padat perkotaan di Kecamatan
Padang Barat, dan membentang dari daerah Purus hingga muara Batang Arau. Pantai
ini berjarak kurang lebih 23 km dari Bandar Udara Internasional Minangkabau
atau 30 menit perjalanan darat dengan mobil.
Mengawali
tahun 2015, kawasan Pantai Padang termasuk 10 kawasan bebas sampah yang
dilindungi oleh Perda Nomor 21 tahun 2012.
JEMBATAN SITTI NURBAYA
Jembatan Sitti
Nurbaya adalah jembatan yang membentang sepanjang 156 meter di atas sungai
Batang Arau, Kota Padang, Sumatera Barat. Jembatan ini menghubungkan pusat kota
dengan Seberang Padang. Mengambil nama dari novel klasik Sitti Nurbaya karya
Marah Rusli, jembatan ini adalah akses menuju Gunung Padang, salah satu latar tempat
Sitti Nurbaya.
Dibangun sejak
tahun 1995, pembangunan jembatan menghabiskan biaya Rp19,8 miliar dari anggaran
pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dibantu oleh Asian Development Bank
(ADB) dan Overseas Economic Cooperation Fund (OECF). Penggunaannya diresmikan
pada pertengahan tahun 2002, ditandai dengan kehadiran pemeran drama televisi
Sitti Nurbaya HIM Damsyik, Novia Kolopaking, dan Gusti Randa.
DESA PARIANGAN (TERCANTIK DIDUNIA VERSI
TRAVEL BUDGET AMAERIKA)
Pariangan
merupakan nagari di kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi
Sumatera Barat. Posisi peta -0.457575,100.493344.
Nagari ini
terletak di lereng Gunung Marapi pada ketinggian 500-700 meter di atas
permukaan laut. Menurut Tambo Minangkabau Pariangan merupakan nagari tertua di
ranah Minang.
Salah satu
sudut nagari Pariangan.
Di nagari ini
termasuk yang terbaik dalam menjaga rumah adat tradisional yang disebut rumah
gadang (Bahasa Minang, rumah besar), sehingga sampai sekarang masih dijumpai
banyak yang terawat dengan baik. Pada nagari ini juga masih dijumpai surau,
yang masih menjadi tempat tinggal komunal untuk pria yang belum menikah.
Dan pada
bagian tengah dari nagari ini masih berdiri sebuah masjid tradisional yang
cukup besar yang diperkirakan sudah ada di awal abad kesembilan belas, di mana
pada masjid tersebut terdapat tempat mandi umum berair panas yang masih
digunakan sampai sekarang. Di Nagari ini juga terdapat situs cagar budaya baru
Tungku Tigo Sajarangan.
Pada Mei 2012,
Nagari (desa) Pariangan terpilih sebagai salah satu dari lima desa terindah di
dunia versi Budget Travel, sebuah majalah pariwisata internasional.
OLD CITY KOTA PADANG
Kota Tua
Padang atau Padang Lama adalah sebuah kawasan di sehiliran Sungai Batang Arau
yang merupakan peradaban pertama di Kota Padang. Secara administratif, Kota Tua
Padang mencakupi sebagian wilayah dua kecamatan, yakni Padang Barat dan Padang
Selatan. Kawasan Kota Tua Padang pada zaman dahulu adalah sebuah kawasan
perdagangan yang sangat ramai melalui Pelabuhan Muara.


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar